Kualitas Asupan Gizi Balita Di Indonesia Masih Memprihatinkan

Kualitas asupan gizi anak bawah lima tahun (balita) di Indonesia masih memprihatinkan. Penyebabnya asupan gizi yang kurang dan perubahan pola asuh keluarga yang tidak terpantau baik. Pada tahun 2002, diketahui terdapat 1,4 juta balita yang dinilai tidak memiliki asupan gizi yang cukup sehingga kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan dalam makalah berjudul Susu dan Tumbuh Kembang Anak mengungkap, data tahun 2007 mengungkap 4 juta balita Indonesia menderita gizi kurang dan 700 ribu balita mengalami gizi buruk.

Hal tersebut mempengaruhi tinggi badan dari anak-anak di Indonesia. Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dari balita pendek sekitar 34,3%. Terjadi penurunan pada tahun 2004, yaitu menjadi 25,8%. Salah satu asupan gizi pendukung untuk balita adalah susu. Keunggulannya, kandungan vitamin ddan mineral yang lengkap serta lebih mudah diserap sempurna oleh tubuh. Tren peningkatan konsumsi susu di Indonesia memang berjalan lambat. Bila tahun 1970, masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi susu 1,28 kilogram/kapita per tahun, maka tahun 2000 meningkat menjadi 6,50 kg. “Selama 30 tahun hanya meningkat 4,68 kilogram,” ujar Khomsan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

READ:  Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Gizi Buruk

Menurut dia, rendahnya konsumsi susu di Indonesia disebabkan banyak faktor. Diantarnya, pemahaman yang rendah tentang pentingnya susu bagi kesehatan. Khomsan menuturkan, susu memiliki peran penting bagi tubuh manusia terutama untuk proses pembentukan tulang. Bagi usia tua, susu juga dibutuhkan untuk memperbaiki formasi tulang akibat berkurangnya volume tulang. “Pada anak-anak, absorbsi kalsium sekitar 75%. Sedangkan, pada anak dewasa sekitar 20%-40%,” ujarnya. Satu gelas susu dapat memenuhi sekitar 25% kebutuhan protein anak bawah tiga tahun (batita) dan 45% kebutuhan kalsium per hari. Selain itu, segelas susu juga mengandung energi sebesar 140 kilokalori (kkal), 4 gram protein dan 5 gram lemak.

Susu juga membantu anak memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral. Meskipun diperlukan hanya sedikit, tetapi penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Terutama, di usia batita. Termasuk prebiotik sebagai serat larut pendukung kesehatan cerna. “Prebiotik adalah serat larut yang penting di usia batita yang seringkali terkena diare, sembelit dan lain-lain,” tutur Khomsan. yang seringkali terkena diare, sembelit dan lain-lain,”Pendukung gizi untuk pertumbuhan anak-anak juga termasuk asam lemak esensial yang diperoleh dari makanan karena tidak bisa diproses tubuh. “Anak membutuhkan asam lemak ALA yaitu alpha linolenic acid atau omega 3 yang sumbernya dari rumput laut dan minyak ikan. Serta LA yaitu linolenic acid atau omega 6 yang bisa diperolah dari minyak jagung,” pungkasnya