Defisiensi dan Ekskresi Biotin

https://www.infogizi.comSebagian biotin diekskresikan didalam urine pada manusia dan tikus, dalam bentuk terkonjugasi. Diketahui tiga jenis struktur metabolite biotin yang strukturnya belum diketahui tetapi sudah diberi nama miotin, tiotin, dan rhiotin.

Pada manusia ekskresi biotin didalam urine sebanding dengan tingkat konsumsinya, sedangkan ekskresi didalam tinja selalu lebih banyak dari yang dikonsumsi; ini karena sebagian besar biotin didalam tinja adalah hasil produksi mikroflora.

Sampai sekarang belum pernah dilaporkan adanya kasus defisiensi biotin pada manusia, mugkin karena didalam rata-rata hidangan di Indonesia, ditambah sintesa oleh mikroflora usus, selalu mencukupi kebutuhan akan vitamin ini. Kebutuhan manusia akan biotin belum diketahui.

Beberapa derivate biotin berpengaruh sebagai antivitamin. Perubahan dilakukan pada struktur gelang maupun struktur samping, diantaranya gamma (2,3 ureylene cyclohexyl) butyric acid, gamma (3,4 ureylene cyclohexyl) butyric acid dan isolecithine.

READ:  Cara Melakukan Survei Gizi

Avidin adalah suatu protein yang terdapat didalam putih telur mentah, yang mengikat biotin didalam rongga usus dan menjadikan vitamin ini tidak dapat diserap kedalam mukosa usus. Pengaruh avidin dapat ditiadakan dengan memanasinya.

Defisiensi biotin pada binatang percobaan berbentuk scaly dermatitis dan kelainan rambut yang menjadi rontok. Kelainan mulai tampak didaerah bokong, genitalia dan moncong. Kelainan ini melebar dan disertai rambut yang rontok.

Daerah kelainan ini tidak berbatas tegas dari kulit yang masih sehat. Pada kondisi ringan kelainan hanya terbentuk disekitar mata sehingga disebut ”kondisi kacamata”.

Pada defisiensi yang sangat berat; dermatitis mengenai seluruh tubuh, menyerupai erythroderma desquamatum. Epidermis mengelupas dalam lapisan-lapisan kecil dan besar, tidak menunjukkan lemak pada rabaan.

READ:  Pemeriksaan Kesehatan Gizi

Mata memperihatkan blepharitis, sehingga kelopak mata dapat menjadi tertutup rapat oleh secret yang mengering dan berwarna kekuningan.

Terjadi alopecia generalisata dan binatang tampak menggaruk terus seluruh tubuhnya. Pada pengobatan dengan dosis biotin, lesion ini akan menyembuh dengan sangat lambat.

Meskipun defisiensi biotin percobaan pada manusia dapat ditimbulkan, yang juga mengenai kondisi kulit seperti pada hewan, tetapi kasus defisiensi biotin alamiah pada manusia belum pernah dilaporkan.